Kemaren, 16 Mei 2013 jam 15:00 Kuliah Online terlaksana dengan sukses dan istimewa. Sukses bukan karena pesertanya bertambah banyak, sebab pesertanya justru berkurang dari Kuliah Online seri sebelumnya. Sukses karena program ini dapat menjaga keberlangsungannya. Istimewa karena Kuliah Onle seri kedua ini juga dibroad cast di dua lembaga pendidikan tinggi Islam yang dahulu pernah menjadi "anak" IAIN Sunan Ampel. Kedua lembaga tersebut adalah UIN Maulana Malik Ibrahim atas inisiatif Faizuddun Harliansyah, dan STAIN Jember atas inisiatif Aisya Nurhayati. Ini pengalaman pertama, dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang kami miliki.
Tidak ada yang perlu dibanggakan dari kegiatan sederhana ini. Selain sederhana, tujuannya juga sederhana, peralatan yang kita pergunakan juga sederhana. Dan yang pasti kegiatan ini bukan yang pertama. di lembaga pendidikan yang lain mungkin jauh jauh hari sebelumnya telah sering mengadakan. Yang pasti pola kegiatan seperti ini adalah pola kerja jurnalistik di banyak stasiun TV yang punya kegiatan Live on the spot. Tapi kalau boleh kita bangga, maka kebanggaan kami ada pada keinginan kita untuk mencoba bekerja dari hal yang sederhana untuk tujuan yang mulia. Keberanian kawan kawan seperti Joko Liswadi, pak Misnadi, pak Zaidun, Faizuddin, Aisya itulah yang patut diapresiasi dengan empat jempol. we proud of you all.
Peserta
Kuliah Online seri kedua diikuti oleh tiga lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam di tiga kota di Jawa Timur. STAIN Jember, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Di Jember, Kuliah Online dibroadcast di Pepustakaan STAIN Jember dengan diikuti oleh 47 orang. Di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kuliah Online juga dibroad cast di Perpustakaan dan dikuti oleh 25 orang. Sedangkan di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Kuliah Online diselenggarakan di Laboratorium SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya diikuti oleh 20 orang dari tiga lembaga pendidikan, IAIN Sunan Ampel, Universitas Airlangga dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Peserta dari Jember dan Surabaya semua memberi respon posiitif dengan penyelenggaraan program ini dan mengharap supaya kegiatan Kuliah Online dilanjutkan di masa mendatang. Bahkan salah satu mahasawa mengatakan bahwa kedepan program ini menjadi pintu bagi IAIN Sunan Ampel goes internasional. Menurut saya harapan ini terlalu dini untuk dibebankan ke pundak para inisiator, yang bekerja bukan atas Surat Keputusan, tetapi hanya kecintaan mereka kepada lembaga pendidikan yang telah mendidiknya.
Tema Kuliah Online
Kuliah Online seri kedua mengambil tema "Politik Minyak dan Arab Spring" yang disampaikan oleh Andar Nubowo, Mahasiswa S3 EHESS Paris Perancis yang juga sedang menulis dissertasi dengan tema yang sama.
Secara kebetulan negara yang dianugerahi Tuhan dengan kandungan minyak di kawasan geografisnya merupakan negara-negara yang diperintah oleh rezim yang kurang ramah terhadap demokrasi, bahkan memiliki kecenderungan otoriter dalam pemerintahnnya. Oleh sebab itu minyak bubi bagi sebagian orang dianggap sebagai berkah, tapi bagi sebagian lainnya justru menjadi kutukan (curse)
Untuk memadamkan keinginan penduduknya untuk melakukan perlawan terhadap rezim otoriter di wilayah Timur Tengah, pemerintahnya seringkali menempuh tiga kebijakan politik.
Pertama, kebijakan pajak rendah, Bahkan kalau perlu zerro tax. kebijakan populis seperti ini akan meringankan beban hidup penduduk, dan politik pencitraan penguasa di mata penduduknya untuk menutupi otoritarianisme dan birokrasi yang korup.
Kedua, kebijakan membangun infrastruktur sosial, seperti jalan raya, rumah sakit.
Kedua kebijakan sosial ini tentu saja akan menimbulkan diskusi berkepanjangan tentang tingkat kebutuhan masyarakan akan kesejahteraan dan kebebasan. Manakah yang dibutuhkan kebebasan yang terbatas dengan peningkatan kesejahteraan, ataukah kebebasan yang luas dengan kesejahteraan sosial yang terbatas.
Ketiga, para rezim otoriter di Timur Tengah seringkali membentuk kelompok pro pemerintah untuk menandingi kelompok oposisi. Sebuah kebijakan politik dengan mata pedang ganda. Satu sisi mendukung kebebasan berserikat, di sisi yang berbeda membonsai kritik kelompok oposisi dengan dalih demokrasi. Kekuatan dana akibat cadangan minyak yang melimpah membuat rezim otoriter bertahan selama yang dia inginkan.
Arab Spring, atau gejolak sosial yang didukung oleh generasi muda (spring) di kawasan Timur Tengah tidak semuanya berhasil di negara negara penghasil minyak di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Berasil di Tunisia, Libya, Mesir, tapi gagal di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Maroko. Kegagalan dan keberhasilan Arab Spring dalam jatuh bangunnya sebuah rezim di kawasan Timur Tengat erat hubungannya dengan cadangan minyak sebuah negara dan konstelasi politik global. Paling tidak ada dua hal yang saling berkaintan satu dengan lainnya. Semakin banyak cadangan minyak bumi dan semakin besar konsesi pertambangan yang diberikan oleh kelompok oposisi kepada negara pengolah minyak yang ada, seperti Amerika, Canada, Inggris, dan Perancis, maka kejatuan sebuah rezim otoriter di wilayah tersebur akan jatuh semudah jentikan jari tangan. Sebaliknya apabila cadangan minyak bumi telah menipis, dan kecilnya konsesi pertambangan yang diberikan oleh kelompok oposisi maka semakin sulit rezim otoriter dijatuhkan seoerti kasus Saudi Arabia.
Dengan ungkapan lain, sulit untuk memisahkan bahwa Arab Spring yang menjadi trend politik tahun 2010an dengan kepentingan negara negara industri. Atau sulit untuk menganggap bahwa Arab Spring sebagai gerakan sosial memiliki warna tunggal sebagai gerakan demokratisasi di kawasan Timur Tengah.
No comments:
Post a Comment