Sebelum keberangkatan saya ke Pondok Modern Gontor Ponorogo, saya sempat
berbincang bincang dengan kawan saya yang bernama Hasanain Juaini. Kepergian
kita berdua ke Pondok Modern Gontor adalah dalam rangka menghadiri reuni bersama
sama kawan kawan satu periode setelah meninggalkan almamater tiga puluh tahun
yang lalu. Hasanain dan saya adalah kawan lama yang pernah menimba bersama ilmu
keagamaan Islam di Pondok Gontor.
Hasanain adalah salah satu penerima penghargaan Internasional Raymond
Magsasay di Manila beberapa tahun yang lalu. Penghargaan tersebut diberikan
karena dedikasinya yang luar biasa untuk menyelamatkan lingkungan hidup di
daerahnya, Narmada pada khususnya dan Pulau Lombok dan propinsi NTB pada
umumnya. Saat ini dia memimpin Pondok Pesantren Putri Nurul Haramain, yang
awalnya hanya memiliki 7 orang santriwati, kini melonjak menjadi lebih 1000
orang santriwati setelah 7 tahun kemudian.
Dahsyatlah kawan saya yang satu ini. Saya merasa bangga bisa memiliki kawan
yang hebat ini. Paling tidak bisa bercerita kepada anak anak saya, bahwa salah
satu kawan bapaknya pernah meraih penghargaan internasional seperti penghargaan
yang diterima oleh presiden Abdurrahman Wahid.
Pembicaraan kita sebelum berangkat berkisar upayanya untuk menyelamatkan
hutan dari penebangan yang terjadi di wilayah Pulau Lombok. Begini ceritanya.
Hasanain menceritakan dua fenomena lingkungan hidup yang saling
berhubungan. Fenomena pertama adalah fenomena sampah. Menurutnya setiap tahun
Pulau lombok memproduksi sampah sebanyak lebih dari 600 ribu ton sampah, yang
bila salah mengelolanya maka akan mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke
Pulau Lombok. Suatu saat pengelolaan sampah terabaikan oleh Pemprov NTB
akibatnya sampah menumpuk di mana mana. Ada yang iseng memotret fenomena
tumpukan sampah ini dan kemudian mempublikasikan fenomena ini di dunia maya. Dampaknya
sungguh dahsyat. Kunjungan wisata ke pulau Lombok menurun drastis hingga 50
persen. Citra pulau Lombok sebagai pulau seribu masjid sama sekali tidak
menolong.
Fenomena kedua, adalah fenomena penebangan pohon di Pulau Lombok. Pulau
Lombok dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau, sebab tanaman tembakau
salah satu tanaman primadona bagi para petani pulau Lombok. Untuk proses
pengeringan, tepatnya mengoven daun tembakau hingga cepat kering diperlukan
bahan bakar yang cukup banyak. Masyarakat Lombok masih mempergunakan kayu
sebagai bahan bakarnya, dan kayu bakar tersebut diperoleh dengan menebang pohon
di sekitarnya yang merupakan sumber utama kebutuhan kayu bakar mereka. Untuk
itu, menurut penuturan Hasanain, tidak kurang 10 ribu lebih pohon ditebang
untuk keperluan ini.
Dengan melihat dua fenomena sosial tersebut timbul ide, yang menurut saya
sangat kreatif, ramah lingkungan dan kontekstual. Inilah yang disebut kearifan
lokal. Bagaimana mengolah sampah yang menggunung itu sebagai sumber energi
sebagai pengganti kayu yang bisa digunakan untuk mengeringkan tembakau. Logika
sederhanan adalah, bila konversi problem lingkungan (sampah) ini menjadi sumber
energi alternatif, maka minimal ada 10 ribu batang pohon di Pulau Lombok yang
terselamatkan. Dengan sendiri program ini akan menjadi program reboisasi tidak
langsung dan menjaga pulau Lombok dari kekeringan di masa mendatang. Konversi sampah
ini bisa dengan menjadi sebagai energi alternatif dalam bentuk bricket
pengganti batu bara, atau bahwa sebagai sumber energi listrik alternatif. Tentu
saja pertanyaannya adalah bisakah itu semua diwujutkan? Tentu saja dua sahabat
alumni pesantren tidak bisa memberikan solusi teknis, karena kita berdua bukan
ahlinya. Kita berdua hanya pandai menjaring problem.
Inilah kemudian manfaatnya memiliki seorang kawan. Langsung saya
menghubungi seorang kawan yang aktif di organisasi I-4 yang bernama Achmad Adhitya
yang kini sedang menempuh studi S-3 di negeri Belanda. I-4 adalah organisasi
yang menghimpun Ilmuwan Indonesia yang kini sedang berkiprah di luar negeri dan
ingin memberikan kontribusi keahliannya untuk kemajuan Indonesia. Berkontribusi
tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Mereka ingin memberikan kontribusinya
dengan memanfaatkan teknologi internet dan telekomunikasi. ”I am more than
happy to help” begitulah kira kira respon spontan yang saya baca saat
bermassage ria dengan saya di Facebook saat saya mengutarakan permintaan tolong
saya.
Sebelumnya saya juga sempat bekerja sama dengan dia saat menginisiasi
program Kuliah Online dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Adhitya telah
berhasil memotivasi mahasaswa Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya saat
menyampaikan materi ”meraih peluang beasiswa ke luar negri” yang merupakan seri
pertama Kuliah Online.
Memberikan solusi atas problem masyarakat, terutama dunia pesantren adalah
missi utama bagi IAIN. Sebagai lembaga pendidikan, IAIN didirikan ya untuk itu,
jadi bersinergi dengan Pondok Pesantren merupakan kehormatan yang luar biasa
bagi IAIN. Saat ini mungkin kita berbicara tentang lingkungan hidup, pada
kesempatan lain pasti problem lain yang harus dibantu untuk dicarikan
solusinya. Ini juga pada akhirnya membuka cakrawala mahasiswa, bahwa dunia
pesantren tidak hanya dunia kitab kuning, fiqih, Al-Qur’an tetapi juga dunia
lingkungan hidup. Lapangan hidup menjadi lebih luas setelah kita semakin sering
berinteraksi langsung dengan kehidupan sosial. Inilah salah satu contoh nyata
bagaimana pesantren, IAIN memberikan kontribusi bagi problem kemasyarakatan.
Pada skala yang lebih luas lagi, inilah bentuk nyata dari sinergi segala
lini potensi yang dimiliki masyarakat untuk kemajuan bersama. Mememberikan
kontribusi sesuai potensi yang dimiliki. Pesantren Haramain dengan problem yang
dihadapi, I-4 dengan segudang tenaga ahlinya, IAIN memfasilitasi interaksi
kedua sebagai tanggung jawab sosialnya. Kesemuanya untuk kemajuan Indonesia.
Mungkin ini adalah salah satu tema yang akan kita angkat untuk Kuliah Online seri seri berikutnya
Surabaya, 14 Mei 2013
â Amiq Ahyad
No comments:
Post a Comment