Tuesday, May 14, 2013

Kuliah Online - I-4 – Pondok Pesantren dan Lingkungan Hidup


Sebelum keberangkatan saya ke Pondok Modern Gontor Ponorogo, saya sempat berbincang bincang dengan kawan saya yang bernama Hasanain Juaini. Kepergian kita berdua ke Pondok Modern Gontor adalah dalam rangka menghadiri reuni bersama sama kawan kawan satu periode setelah meninggalkan almamater tiga puluh tahun yang lalu. Hasanain dan saya adalah kawan lama yang pernah menimba bersama ilmu keagamaan Islam di Pondok Gontor.

Hasanain adalah salah satu penerima penghargaan Internasional Raymond Magsasay di Manila beberapa tahun yang lalu. Penghargaan tersebut diberikan karena dedikasinya yang luar biasa untuk menyelamatkan lingkungan hidup di daerahnya, Narmada pada khususnya dan Pulau Lombok dan propinsi NTB pada umumnya. Saat ini dia memimpin Pondok Pesantren Putri Nurul Haramain, yang awalnya hanya memiliki 7 orang santriwati, kini melonjak menjadi lebih 1000 orang santriwati setelah 7 tahun kemudian.

Dahsyatlah kawan saya yang satu ini. Saya merasa bangga bisa memiliki kawan yang hebat ini. Paling tidak bisa bercerita kepada anak anak saya, bahwa salah satu kawan bapaknya pernah meraih penghargaan internasional seperti penghargaan yang diterima oleh presiden Abdurrahman Wahid.

Pembicaraan kita sebelum berangkat berkisar upayanya untuk menyelamatkan hutan dari penebangan yang terjadi di wilayah Pulau Lombok. Begini ceritanya.

Hasanain menceritakan dua fenomena lingkungan hidup yang saling berhubungan. Fenomena pertama adalah fenomena sampah. Menurutnya setiap tahun Pulau lombok memproduksi sampah sebanyak lebih dari 600 ribu ton sampah, yang bila salah mengelolanya maka akan mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Lombok. Suatu saat pengelolaan sampah terabaikan oleh Pemprov NTB akibatnya sampah menumpuk di mana mana. Ada yang iseng memotret fenomena tumpukan sampah ini dan kemudian mempublikasikan fenomena ini di dunia maya. Dampaknya sungguh dahsyat. Kunjungan wisata ke pulau Lombok menurun drastis hingga 50 persen. Citra pulau Lombok sebagai pulau seribu masjid sama sekali tidak menolong.

Fenomena kedua, adalah fenomena penebangan pohon di Pulau Lombok. Pulau Lombok dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau, sebab tanaman tembakau salah satu tanaman primadona bagi para petani pulau Lombok. Untuk proses pengeringan, tepatnya mengoven daun tembakau hingga cepat kering diperlukan bahan bakar yang cukup banyak. Masyarakat Lombok masih mempergunakan kayu sebagai bahan bakarnya, dan kayu bakar tersebut diperoleh dengan menebang pohon di sekitarnya yang merupakan sumber utama kebutuhan kayu bakar mereka. Untuk itu, menurut penuturan Hasanain, tidak kurang 10 ribu lebih pohon ditebang untuk keperluan ini.

Dengan melihat dua fenomena sosial tersebut timbul ide, yang menurut saya sangat kreatif, ramah lingkungan dan kontekstual. Inilah yang disebut kearifan lokal. Bagaimana mengolah sampah yang menggunung itu sebagai sumber energi sebagai pengganti kayu yang bisa digunakan untuk mengeringkan tembakau. Logika sederhanan adalah, bila konversi problem lingkungan (sampah) ini menjadi sumber energi alternatif, maka minimal ada 10 ribu batang pohon di Pulau Lombok yang terselamatkan. Dengan sendiri program ini akan menjadi program reboisasi tidak langsung dan menjaga pulau Lombok dari kekeringan di masa mendatang. Konversi sampah ini bisa dengan menjadi sebagai energi alternatif dalam bentuk bricket pengganti batu bara, atau bahwa sebagai sumber energi listrik alternatif. Tentu saja pertanyaannya adalah bisakah itu semua diwujutkan? Tentu saja dua sahabat alumni pesantren tidak bisa memberikan solusi teknis, karena kita berdua bukan ahlinya. Kita berdua hanya pandai menjaring problem.

Inilah kemudian manfaatnya memiliki seorang kawan. Langsung saya menghubungi seorang kawan yang aktif di organisasi I-4 yang bernama Achmad Adhitya yang kini sedang menempuh studi S-3 di negeri Belanda. I-4 adalah organisasi yang menghimpun Ilmuwan Indonesia yang kini sedang berkiprah di luar negeri dan ingin memberikan kontribusi keahliannya untuk kemajuan Indonesia. Berkontribusi tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Mereka ingin memberikan kontribusinya dengan memanfaatkan teknologi internet dan telekomunikasi. ”I am more than happy to help” begitulah kira kira respon spontan yang saya baca saat bermassage ria dengan saya di Facebook saat saya mengutarakan permintaan tolong saya.

Sebelumnya saya juga sempat bekerja sama dengan dia saat menginisiasi program Kuliah Online dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Adhitya telah berhasil memotivasi mahasaswa Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya saat menyampaikan materi ”meraih peluang beasiswa ke luar negri” yang merupakan seri pertama Kuliah Online.

Memberikan solusi atas problem masyarakat, terutama dunia pesantren adalah missi utama bagi IAIN. Sebagai lembaga pendidikan, IAIN didirikan ya untuk itu, jadi bersinergi dengan Pondok Pesantren merupakan kehormatan yang luar biasa bagi IAIN. Saat ini mungkin kita berbicara tentang lingkungan hidup, pada kesempatan lain pasti problem lain yang harus dibantu untuk dicarikan solusinya. Ini juga pada akhirnya membuka cakrawala mahasiswa, bahwa dunia pesantren tidak hanya dunia kitab kuning, fiqih, Al-Qur’an tetapi juga dunia lingkungan hidup. Lapangan hidup menjadi lebih luas setelah kita semakin sering berinteraksi langsung dengan kehidupan sosial. Inilah salah satu contoh nyata bagaimana pesantren, IAIN memberikan kontribusi bagi problem kemasyarakatan.

Pada skala yang lebih luas lagi, inilah bentuk nyata dari sinergi segala lini potensi yang dimiliki masyarakat untuk kemajuan bersama. Mememberikan kontribusi sesuai potensi yang dimiliki. Pesantren Haramain dengan problem yang dihadapi, I-4 dengan segudang tenaga ahlinya, IAIN memfasilitasi interaksi kedua sebagai tanggung jawab sosialnya. Kesemuanya untuk kemajuan Indonesia.

Mungkin ini adalah salah satu tema yang akan kita angkat untuk Kuliah Online seri seri berikutnya

Surabaya, 14 Mei 2013
â Amiq Ahyad

No comments:

Post a Comment