Monday, May 6, 2013

Kuliah Online: sebuah langkah kecil


Rencananya, serba mendadak, merencanakannya serba meledak ledak. Banyak pihak yang harus diajak bicara dengan nada tinggi (kalau tidak mau menggunakan istilah dimarahi) padahal seharusnya haram dimarahi. Mana ada seorang dosen berbicara dengan nada tinggi kepada seorang pembatu dekan?? Tapi itulah yang terjadi saat saya memompa semangat kawan kawan di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya untuk menyelanggarakan Kuliah Online dengan memanfaatkan fasilitas internet yang dimiliki di lingkungan fakultas Adab IAIN Sunan Ampel. Dengan ini saya minta maaf yang sangat dalam atas kekurang ajaran saya. Saya memang kurang ajar,tidak sopan kalau melihat kolega yang klemar klemer untuk melakukan sesuatu demi kebaikan fakultas. Saya memang harus kurang ajar, karena memang hanya saya yang berani kurang ajar. Dan yang penting alhamdulillah Kuliah Online terlaksana. Sukses, bagi saya tidak terlalu penting, karena yang membuat saya senang adalah dengan acara tersebut saya mengetahui kekurangan fakultas. Ini mungkin ukuran keberhasilan menurut saya dalam bekerja, mengetahui kekurangan kita. Saya akan ceritakan tentang Kuliah Online.

Inspirsi utama saat akan mengadakan Kuliah Online sebenarnya saat menyaksikan Ahok, Wakil Gubernur DKI Jakarta melakukan konferensi internasional demi  mencari solusi teknis yang tepat untuk revitalisasi kali Ciliwung. Di benak saya saat itu, kenap asaya tidak melakukan hal yang sama untuk tujuan yang lebih sederhana. Yang saya maksud dengan tujuan sederhana adalah membuka wawasan mahasiswa (termasuk di dalamnya tentu saja adalah mahasiswi) untuk mengetahui dunia luar. Ada peluang di luar Indonesia kalau kita mau mencari dan mencoba meraihnya, yaitu bea siswa studi lanjutan. Toh kita punya koneksi internet, jaringan wifi. Jadi makruh  hukumnya bila hanya dipergunakan hanya untuk berfacebook ria. Dari pikiran sederhana inilah maka komunikasi dengan dunia luar mulia saya lakukan.

Awalnya saya sosialisasikan kepada kawan saya di jejaring sosial facebook.Semuanya menyambut dengan antusias. Tapi saya belum memformulasikan ”permintaan saya” setelah yakin memperoleh dukungan strategi saya lanjutkan kepada tujuan praktis, yaitu meminta menjadi pemberi materi. Sebetulnya materi tidak terlalupenting, sebab yang penting bagi saya adalah ktesan di pikiran mahasiswa bahwakalau ia ingin maju maka ada orang sesama warga Indonesia yang memberikanuluran tangan. Itu jauh lebih penting. Maka kemudian saya banting setir menurunkan kualitas materi dari yang ”sok” berbobot menjadi hanya mencari informasi seluas luasnya mencari peluang beasiswa.

Setelah memperoleh kepastian seseorang bersedia memberi materi, ide ini kemudian saya lontarkan kepada kawan-kawan muda seperti Joko Liswadi dan beberapa dosen muda dan senior. Tanggapan yang saya peroleh beragam, ada yang suka, kurang suka ada yang hanya menjadi pendengar alias tidak berkomentar.Sikap pesimis kebanyakan saya dengar dari dosen senior. Tapi saya maklum, sebabmungkin mereka berkali kali mencoba memperbaiki kondisi fakultas dan setiap itu mereka menabrak tembok yang super tebal. Yang penting adalah tenaga muda,karena merekalah yang akan saya ajak bekerja. Untuk memajukan sebuah lembaga,menurut saya, generasi tua harus mengikuti ritme kerja dan idealisme generasi muda dan bukan justru sebaliknya.

Langkah berikutnya adalah memastikan koneksi internet di lingkungan fakultas Adab mampu dipakai untuk berkomunikasi secara visual. Maka kita uji coba secara internal. Pada hari yang ditentukan kita uji coba antara dua komputer di kantor bagian akademik dan satu komputer di ruang jurusan Bahasa dan Sastra Arab.Hasilnya alhamdulillah memuskan, dengan catatan tebal, koneksi lewan jaringan LAN lebih baik ketimbang lewat wifi. Hasil tersebut kemudian saya sampaikan kepada Wakil Dekan bidang akademik.

Langkah berikutnya adalah mencoba berkomunikasi langsung (tahap uji coba)dengan pemateri. Kali ini saya mengajak bapak Wakil Dekan bidang akademik supaya bisa berkomunikasi langsung dengan Adhitya. Uji coba ini dilakukan dilokasi yang akan dipergunakan untuk acara berlangsung. Uji coba juga alhamdulillah berlangsung sukses, kami bisa mendengar suara Belanda, juga pihak Belanda mendengar suara kita pada saat yang bersamaan tanpa interval waktu yang lama. Itu artinya kualitas sambungan internet di lingkungan IAIN cukup okey. Dari uji coba tersebut kita memperoleh masukan dari bapak wakil Dekan, bagaimana suara dari Belanda bisa didengar seluruh peserta?  Bagaimana kemudian pertanyaan peserta kuliah juga bisa didengar di Belanda, dan bagaimana gambar peserta bisa ditampilkan dan dilihat pihak Belanda. Masukan tersebut akhirnya mampu kita sempurnakan kecuali masukan ketiga yang masih belum terselesaikan karena persoalan dana dan keterbatasan waktu (alasan kuno yo, tapi yang pasti acara kuliah online harus segera terlaksana agar semangat ini tidak mati di jalan).

”Okey mas Amiq bagaimana kalau kita selenggarakan kuliah online hari Rabo,24 April 2013 jam 3 sore” Begitu kira kira jawaban Adhitiya saat saya hubungi hari Senin waktu Surabaya.
”Waduh arek iki, semangate rek” begitu gumanku. Saya mencoba menawar bagaimana kalau diundur sehari, Hari Kamis, 25 April 2013 jam yang sama. Alasan saya sederhana, karena saya mau buat pengumuman lewat internet, bukan membuat pengumuman lewat printout yang ditempel di papan pengumuman. Kalau ada internet kenapa kita tidak bikin paperless announcement. Saya ingin punya waktu lebih bagi mahasiswa untuk membaca pengumuman. Selain itu juga saya ingin efektifitas penggunaan internet sebagai sarana mencari informasi bagi mahasiswa diketahui sedini mungkin. Joko Liswadi juga membuat formulir pendaftaran online lewat google document, dan juga bisa dicek hasil pendaftarannya secara online. Jos markojos!.

Akhirnya saya membuat pengumuman di tembok facebook atan nama saya berikut saya sertakan tautan formulir pendaftaran. Target saya hanya menjaring 50 peserta dalam 3 hari. Alhamulillah target terlampaui, peminat yang mendaftar ternyata 55 orang. Tadi pagi Joko datang ke saya, ”pak ternyata yang minat melebihi kuota, bagaimana ini?” saya jawab dengan enteng, yang memiliki nomer 51-55 kita letakkan di daftar tunggu, mereka tidak boleh masuk ruangan sebelum jam 15:00. Setelah jam tersebut, bila ada bangku kosong, mereka diperbolehkan masuk.

Peserta
Kuliah Online seri pertama diikuti 30 orang dengan memiliki latar belakangpendidikan, pekerjaan, gender yang berbeda. Dari ketiga puluh peserta, 2 orang diantaranya adalah mahasiswa paska sarjana, 5 orang dan selebihnya mahasiswa S-1. Lima orang peserta adalah adalah dosen sedangkan lainnya adalah mahasiswa. Enam diantaranya wanita, selebihnya adalah pria.

Survey
Untuk menjaga kualitas layanan kepada mahasiswa ada tiga pertanyaan utama. Survey ini untuk perbaikan ke depan apa bila Fakultas Adab ingin mengagendakkan program sejenis. Pertanyaan pertama adalah dari mana informasi mereka peroleh.Kedua apakah kegiatan yang mereka ikuti bermanfaat buat mereka, dan yang ketigaapakah kegiatan ini layak untuk dilanjutkan.

Hasil survey sungguh mengejutkan saya, ternyata seratus persen dari pesertaKuliah Online memperleh informasi dari facebook. Artinya, facebook cukup efektif sebagai sarana pengumuman. Dan yang paling enting adalah ada kesiapan budaya di kalangan mahasiswa untuk melakukan paperless activities. Di masa yang akan datang, pemumuan sebuah kegiatan sudah tidak perlu dilakukan dengan menempelkan pengumuman yang ditempel di tembok yang justru akan mengotori lingkungan dan memproduk polusi visual yang tidak perlu. Untuk pertanyaan kedua, mereka seluruhnya mengatakan bahwa kegiatan ini sangat berguna dan inspiratif. Saya tentu saja mengucapkan terima kasih kepada Adhitya yang memberikan materi yang memacu semangat belajar mereka. Dan dalam menjawab pertanyaan ketiga semuanya menjawab, bahwa kegiatan ini harus dilanjutkan di masa depan. Ada salah satu mahasiswa Usuluddin bertanya apakah kegiatan ini akan dilaksanakan setiap minggu? Dengan berkelakar bahwa bila ini dilaksanakan setiap minggu maka Fakultas Adab akan kebanjiran peminat.

Epilog

Di awal tulisan ini, saya sebutkan bahwa dengan kegiatan ini akhirnya kita mengetahuikekurakan yang kita miliki. Pada Kuliah Online dengan memanfaatkan Google Hangout, kita mengetahui bahwa kualitas jaringan kita ternyata tidak sempurna amat, karena masih ada visual delay dan trouble yang kadang kadang cukup menjengkelkan meskipun secara audio lumayan memuaskan. Tapi kita tidak akan mengetahui kekurangan kita kalau kita tidak pernah mau mengadakan kegiatan semacam ini.

Masih ada mas’alah yang belum diperoleh solusinya dalam kegiatan ini,adalah bagaimana menampilkan secara visual peserta Kuliah Online. Tapi lagi-lagi ini menyangkut administrasi keuangan yang berada diluar wilayah saya.

Akhirnya saya mengucapkan selamat kepada kawan kawan muda yang membantu mewujudkan kegiatan sederhana ini, dan kepada para peserta Kuliah Online saya sangat berterima kasih karena telah bersedia menjadi saksi sejarah bahwa Fakultas kita telah melakukan sesuatu untuk melayani kalian, masukan agarkegiatan ini menjadi lebih baik di masa mendatang amat saya tunggu, tidak peduli itu berupa cacian. Kepada bapak pimpinan fakultas saya berterima kasih atas wiseful will yang telah membuat acara ini menjadi terlaksana. Kalaukita mau sebenarnya kita bisa membuat fakultas ini lebih baik. Yang belum hadir, saya tunggu pada pertemuan berikutnya.

Surabaya, 25 April 2013
Amiq Ahyad

No comments:

Post a Comment